E-LEARNING SMP N 3 DEPOK

Parade Sastra Maulid di DEGA : Juara 1 Cerpen Kelas 8


Terinspirasi dari Nabi Muhammad

oleh : Lia Alviana*)

“Hiks…hiks… mamah, Alex nakal! Hiks.” Tangis yang begitu keras dari seorang anak di depan rumah, hingga yang sedang di dalam rumah mendengar tangisannya.

“Kenapa sayang?” Tanya Raisa pada sang adik yang bernama Revan.
“Udah.. udah, Revan kan udah gede iya kan? Udah tk loh masa masih nangis?” Ucap Raisa berusaha menghibur Revan. Tapi sepertinya tidak ampuh karena Revan masih tetap menangis.
“Emang di apain sama alex? Dipukul?” Tanya Raisa lembut sambil mengusap rambut adiknya.
“Huwaaa…. kak Raisa, alex tadi nakal ngejek ngejek aku! Huwaaa…” Tangis Revan semakin keras, sementara di rumah hanya ada Raisa karena mamah dan ayah sedang pergi.
“Cup cup cup, sini masuk dulu malu di liatin tetangga.” Bisik Raisa pada Revan, membuat Revan menurut. Padahal enggak ada tetangga sore sore begini. Paling ibu ibu lagi pada pengajian? Kalo bapak bapak pasti masih pada kerja.
Raisa menggendong adiknya menuju ruang tamu dan menurunkannya di sofa.
“Di ejek gimana sama alex?” Tanya Raisa sambil menghapus air mata Revan.
“Itu kak, tadi aku di bilang jelek, terus… huwaaa Alex nakal! Hiks.” Sebelum menyelesaikan ucapannya Revan kembali menangis, tentu saja Raisa kembali kebingungan untuk menghibur adiknya.

“Hah…” Raisa menghela nafas panjang.
“Revan, kamu tau gak? Nabi Muhammad juga sering di ejek seperti itu tapi ia enggak pernah nangis loh!” Ucap Raisa.
“Nabi Muhammad? Dia siapa kak?” Tanya Revan bingung.
“Nabi Muhammad itu seseorang yang hebat, ia adalah panutan kita.” Ucap Raisa lega karena Revan sudah mulai berhenti menangis.
“Panutan?” Kata Revan bingung.
“Mau denger cerita Nabi Muhammad SAW gak?” Tanya Raisa sambil tersenyum.
“Mau….mau…” Seru Revan semangat.
Kemudian Raisa menceritakan kisah nabi muhammad SAW kepada Revan.
Salah satu sudut di dekat pintu kota madinah menjadi tempat seorang pengemis Yahudi buta tinggal. Jika ada seseorang yang mendekatinya, ia selalu berpesan, “Jangan pernah engkau dekati Muhammad. Dia itu orang gila, pembohong, dan tukang sihir.”


Seandainya dia dapat melihat, tentu dengan cepat ia merubah sikapnya itu. Sebab, Rasulullah yang gemar mendatanginya. Bukan untuk memarahinya karena mengejek Nabi Muhammad SAW. Justru, Rasulullah rajin datang kepadanya dengan membawa makanan.

Tanpa bicara sepatah kata pun, beliau lantas duduk di sebelah pengemis Yahudi buta itu. Setelah meminta izin, Rasulullah pun menyuapi pengemis tersebut dengan penuh kasih sayang. Hal itu dilakukannya rutin, bahkan menjadi kebiasaan setiap pagi. Seiring berjalannya waktu, Allah SWT memanggil Rasulullah. Rasulullah wafat, menyisakan duka yang teramat dalam kepada para keluarga, sahabat, dan kaum Muslimin.

Sementara itu, kepemimpinan umat sudah berada di tangan Abu Bakar ash-Shiddiq. Sang khalifah ini memang sudah bertekad untuk mengikuti tradisi dan kebijakan-kebijakan peninggalan Rasulullah. Bahkan termasuk rutinitasnya sehari-hari.

Suatu hari, Abu Bakar berkunjung ke rumah putrinya, Aisyah. Abu Bakar bertanya kepada anaknya yang juga istri Nabi Muhammad SAW itu.

“Wahai putriku, adakah satu sunnah kekasihku (Rasulullah SAW) yang belum aku tunaikan?” Tanya Abu Bakar.
Aisyah pun menjawab, “Wahai ayahku, engkau adalah seorang ahli sunnah, dan hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum engkau lakukan kecuali satu saja”.
“Apakah itu?” Tanya Abu Bakar.
“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang sering duduk di sana,” ungkap Aisyah.
Keesokan harinya, Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makanan. Dia pun bergegas menuju titik lokasi yang dimaksud, supaya berjumpa dengan si pengemis. Betapa gembiranya Abu Bakar melihat adanya seorang pengemis buta yang duduk di dekat sana. Setelah mengucapkan salam, Abu Bakar lalu duduk dan meminta izin kepadanya untuk menyuapinya.

Namun, di luar dugaan pengemis tadi malah murka dan membentak-bentak, “Siapakah kamu!?”

Abu Bakar menjawab, “Aku ini orang yang biasa menyuapimu.”
“Bukan! engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” teriak si pengemis lagi.
“Jikalau benar kamu adalah dia, maka tidak susah aku mengunyah makanan di mulutku. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menghaluskan makanan terlebih dahulu dengan mulutnya sendiri. Barulah kemudian dia menyuapiku dengan itu!” terang si pengemis sambil tetap memasang wajah kesal.

Abu Bakar tidak kuasa menahan air matanya, “Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, Abu Bakar. Orang mulia itu telah tiada. Dia adalah Nabi Muhammad SAW.”
Mendengar penjelasan Abu Bakar, pengemis tadi seketika terkejut. Dia menangis keras. Setelah tenang, dia bertanya memastikan, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghina, memfitnah, dan menjelek-jelekan Muhammad. Padahal, belum pernah aku mendengar dia memarahiku sedikit pun. Dia yang selalu datang kepadaku setiap pagi dengan membawakan makanan. Dia begitu mulia.”
Setelah itu, di hadapan Abu Bakar ash-Shiddiq, pengemis Yahudi buta itu mengucapkan dua kalimah syahadat. Begitulah, dia masuk Islam karena menyadari betapa mulianya akhlak Rasulullah SAW.

Setelah menyelesaikan ceritanya Raisa bertanya pada sang adik, “Jadi sekarang Revan masih mau nangis?”
“Nggak! Revan mau jadi orang kuat kayak Nabi Muhammad!” Serunya.
“Haha… nah gitu baru adik kak Raisa!” Kata Raisa sambil mengacak rambut Revan lembut.
“Tapi kak, kok Nabi Muhammad nggak marah ya? Di ejek ejek kayak gitu? Kalo aku pasti marah!” Ungkap Revan.
“Mungkin kakak juga marah kalo di ejek kayak gitu, kayak tadi Revan marah sama Alex.” Jawab Raisa.
“Berarti Nabi Muhammad sabar banget ya kak!” Seru Revan.
“Iya, Nah itu Revan tau.” Ucap Raisa.
“Makanya lain kali Revan kalo marah sama orang lain di bicarakan dulu baik baik sama orang itu, Revan harus lebih sabar, oke?” Jelas Raisa.
“Tapi kak kalo ada yang ngejek udah keterlaluan gimana?” Tanya Revan.
“Kalo menurut Revan udah keterlaluan, mungkin Revan boleh marahin orangnya biar gak ngulang lagi, Nah sekarang udah ngerti kan yang tadi kak Raisa ceritain?” Raisa menatap Revan penasaran dengan jawaban adiknya itu, apakah dia sudah mengerti atau belum?
“Ohh, jadi gitu aku sekarang paham kak!” Seru Revan.
“Besok berarti Revan baikan ya.. sama Alex!” Sambung Raisa, yang langsung mendapat penolakan dari adiknya, “Gak mau! Kan yang nakal Alex!”
“Revan gak boleh gitu dong…” bujuk Raisa.
“Iya deh besok aku minta maaf sama Alex.” Ucap Revan yang akhirnya menurut. Kebetulan tepat pukul 6 sore saat adzan maghrib dikumandangkan mamah dan ayah pulang bersama seseorang.

“Assalamualaikum, mamah pulang.” Mamah mengucapkan salam.
“Waalaikumsalam.” Jawab Raisa, sementara Revan langsung berlari dan memeluk mamah nya, sudah seperti tidak bertemu bertahun tahun saja!
“Loh ada Alex juga?” Tanya Raisa terkejut.
“Iya, bundanya Alex minta titip Alex di sini semalem karna mereka ada acara.” Jelas Ayah.
Sementara itu Revan dan Alex dari tadi hanya saling berhadapan dan menundukan kepalanya tanpa berbicara.
“Van, ayo ini kesempatan buat minta maaf!” Bisik Raisa. Revan hanya diam saja walau sudah di beritahu kakaknya itu untuk terlebih dahulu minta maaf. Apakah ini yang dinamakan gengsi?

Tak lama akhirnya Alex pun meminta maaf terlebih dahulu. “Maaf ya van, aku gak bakal ngejek kamu lagi!” Ucap Alex bersungguh sungguh.
“Iya gak papa aku juga minta maaf kalo ada salah, besok kita main bareng lagi ya?” Revan bersalaman dengan Alex.
“Asikkk, udah baikan nih!” Sahut Raisa yang dari tadi memperhatikan interaksi kedua anak itu.
“Kak! Ayo sholat maghrib berjamaah, ajak Revan sama Alex juga!” Teriak Ayah.
“Oke yah!” Seru Raisa.
“Yuk lex, kita wudhu dulu!” Ajak Revan, yang tadinya bermusuhan sampai ada yang menangis sekarang mereka bahkan bergandengan tangan menuju kamar mandi untuk wudhu.
“Lex, kamu tau gak Nabi Muhammad?” Tanya Revan pada Alex.
“Iya tau, dia nabi terakhir kan!” Jawab Alex.
Raisa hanya tersenyum mendengar sekilas percakapan kedua anak itu yang baru saja berbaikan.

Catatan*)
Nama: Lia Alviana
Kelas: 8b,No presensi: 17