E-LEARNING SMP N 3 DEPOK

Parade Sastra Maulid di DEGA : Juara 1 Cerpen Kelas 7


Jangan Mudah Marah!

oleh : Filza Khairina Jafni, kelas 7A/15

“Jelek banget sih mainanmu!” ejek Gavin kepada Deon.

“Emang mainanmu sendiri bagus?! Punyamu yang jelek, justru mainanku lah yang bagus!” balas Deon kepada Gavin.

“Punyamu itu, jelek! Punyaku yang bagus!” Gavin kembali menanggapi dengan ejekannya.

Sepulang sekolah tadi Gavin dan Deon berencana untuk bermain bersama di taman bermain. Mereka ingin membuat mainan bersama dan memainkannya bersama. Namun yang terjadi mereka justru berkelahi karena Gavin mengejek mainan milik Deon dan tentu saja Deon tidak terima dengan ejekan itu. 

“Mainanmu pasti tidak memiliki seperti ini kan? Hahaha jelek sekali, punyaku nih lengkap,” kata Deon memamerkan mainan miliknya.

Gavin yang mendengar itu tidak terima, ia memukul Deon. Deon membalas pukulan Gavin. Mereka sekarang jadi saling pukul, muka mereka berdua banyak bekas pukulan dari perkelahian ini. 

Untung saja Ravid melihat perkelahian tersebut. Ia langsung menghampiri dan melerai. Ravid menyuruh mereka untuk saling memaafkan. Akhirnya Gavin mengakui kesalahnnya.

“Deon… Maafkan aku karena telah mengejek mainanmu,” ucap Gavin dengan muka sedikit menunduk.

Deon tidak menanggapi permintaan maaf Gavin, ia tidak mau memaafkannya. Ravid pun turut meminta Deon untuk memaafkan Gavin. Namun tetap saja Deon tidak bergeming.

“Kamu itu gimana sih… Aku sudah minta maaf, tapi kamu malah acuh, tidak memaafkan…” seru Gavin.

Dan… Bukkk!!! Tinju Gavin mendarat di pipi Deon. Dan mereka terlibat perkelahian lagi. 

Ravid kembali berusaha memisahkan mereka berdua, namun memisahkan mereka berdua bukanlah hal yang mudah. 

Kebetulan sekali Pak Ustad lewat dan melihat Gavin dan Deon berkelahi. 

“Ada apa ini, Vid?” tanya Pak Ustad pada Ravid.

“Mereka berkelahi karena Gavin mengejek mainan Deon, lalu Deon marah, tadi saya sudah melerai mereka. Gavin sudah minta maaf, namun Deon tidak memaafkan. Kemudian Gavin marah karena Deon tidak memaafkan. Lalu mereka berkelahi kembali Pak,” Ravid menceritakan semuanya.

Pak Ustad memisahkan mereka berdua agar berhenti bertengkar. 

“Kalian ini libur Maulid Nabi, bukannya mengisi dengan kegiatan positif, malah berantem!”

Anak-anak hanya bisa terdiam.

“Harusnya kalian meneladani sifat-sifat Rasulullah,” Sambung Pak Ustad, “Sabar, tidak mudah marah, dan memaafkan merupakan sifat Rasul yang yang harus kita teladani,” Pak Ustad menghela nafas sejenak.

“Kalian tahu, dulu Nabi Muhammad melewati banyak rintangan dalam berdakwah,” sambung Pak Ustad, diikuti anggukan dari mereka bertiga, “Diejek, dilempari batu, bahkan dilempari kotoran… Namun Rasulullah tetap sabar,”

Suasana kini menjadi hening, membuat suara angin yang berhembus semakin jelas. Mereka menunggu Pak Ustad melanjutkan pembicaraannya. Anak-anak sudah bisa menebak, pasti Pak Ustad akan bercerita. 

“Nabi Muhammad pernah melakukan dakwah ke Taif. Pada perjalanannya ia ditemani oleh Zaid bin Harisah, dengan berjalan kaki. Namun sesampainya di Taif justru dakwah beliau tidak disambut baik oleh penduduk di sana,” ucap Pak Ustad

“Nabi Muhammad menemui beberapa tokoh penguasa Taif, yaitu Abdul Yalail, Mas’ud, dan Hubaib. Rasulullah menyampaikan pokok-pokok ajaran islam kepada mereka, beliau juga berharap agar mereka bersedia membantu menyebarluaskan tentang ajaran islam,” Pak Ustad berhenti sejenak.

“Para penguasa Taif tersebut justru menolak seruan Nabi Muhammad, mereka mengusir Nabi Muhammad bahkan menyuruh penduduk Taif untuk menyakiti Nabi Muhammad. Akibatnya, tubuh Rasulullah penuh luka yang cukup parah dan seluruh tubuhnya berlumuran darah,”

Mereka bertiga mendengar cerita Pak Ustad dengan penuh keseriusan. 

“Rasulullah dan Zaid akhirnya meninggalkan Taif, karena lelah mereka berhenti di sebuah kebun kurma milik Rabi’ah salah satu penduduk Taif. Di bawah pohon kurma tersebut Nabi Muhammad merenungi peristiwa yang baru saja ia alami, beliau mengharapkan dapat bantuan dari penduduk Taif, tapi justru beliau mendapatkan penolakan,” sambung Pak Ustad.

 

“Rabi’ah sang pemilik kebun itu merasa kasihan, lalu ia menyuruh budaknya yang bernama Adas untuk memberikan beberapa butir kurma. Kedatangan Adas itu sedikit mengurangi kesedihan Rasulullah. Pada saat itu Adas menyatakan diri untuk masuk islam,”

“Dengan hati sedih, Nabi Muhammad berjalan kembali ke Makkah. Di perjalanan pulang, malaikat penjaga gunung berkata “Wahai Muhammad! Jika kamu berkehendak aku akan mengangkat gunung ini dan menjatuhkannya di atas kaum laknat itu” kata malaikat penjaga gunung,” 

“Lalu Rasulullah menjawab apa pak?” tanya Deon tiba-tiba.

“Rasulullah menjawab “Jangan! Aku berharap Allah mengeluarkan mereka dari penyembahan berhala kepada Allah semata dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya,” begitu jawaban Rasulullah,” 

“Mengapa Rasulullah tidak menjawab iya saja yaaa…” celetuk Gavin.

“Rasulullah seorang sabar, tidak mudah marah… Beliau memaafkan penduduk Taif dan meminta kepada Allah agar mereka mendapatkan keterangan. Jadilah seperti Rasulullah yang tidak mudah marah, dan mudah memaafkan,” balas Pak Ustad.

“Gavin, maafkan aku ya kerena tadi tidak mau memaafkanmu,” ucap Deon kepada Gavin.

“Maafkan aku juga karena telah mengejek mainan buatanmu,” balas Gavin, mereka berjabat tangan dan kembali bermain bersama.

*****