E-LEARNING SMP N 3 DEPOK

Parade Sastra Maulid di DEGA : Juara 1 Cerpen Kelas 9


Cahaya
oleh : Hanan Nisrina Nardin

            Aku adalah seseorang yang tidak percaya akan adanya Tuhan. Bisa dibilang aku ini seorang atheis, yah aku tidak terlalu suka nama  itu. Menurutku semua yang ada di dunia ini hanya bergantung pada keberuntungan dan kerja keras saja. Aku sulit percaya dengan sesuatu yang tidak bisa aku lihat atau rasakan sendiri, oleh karena itu ajaran agama berkebalikan dengan prinsipku.

            Aku juga tidak pernah diberi pelajaran keagamaan oleh keluargaku sendiri, jadi semakin sulit untukku untuk mempercayai suatu ajaran agama. Orangtuaku sudah meninggal bahkan sebelum aku sadar aku telah ada di dunia ini. Aku diasuh kakek nenekku sampai umur 14 tahun dan dibiarkan tinggal sendiri sampai aku dewasa, sampai sekarang.

            Kadang aku merasa dadaku penuh dengan kekosongan. Aku tidak tahu harus kepada siapa aku bercerita tentang semua masalahku. Kakek dan nenekku pasti juga sangat sibuk dan aku yakin mereka tidak akan merespon masalahku dengan  serius, besok juga selesai masalahnya, pasti mereka akan berkata begitu. Aku memang tidak punya tempat untuk kembali,”Haha, sudahlah.”

            Suatu hari, aku berjalan-jalan mengeililingi kota dengan berjalan kaki. Seharusnya pemerintah membangun trotoar yang lebih baik untuk pejalan kaki, ini sangat menyenangkan. Aku melihat sekitar dan mendapati mataku tertuju pada sebuah café yang dipenuhi sekumpulan orang. Aku segera berlari kesana dan melihat apa yang terjadi

            Seseorang pria yang duduk sendiri di tengah sekumpulan orang tersebut tidak terlihat aneh sama sekali kecuali pakaian panjang yang dikenakanannya. Orang orang mengolok-olokknya dan menunjuk-nunjuk dirinya. Sesekali mereka mengeluarkan kata kata yang tidak enak hati untuk didengar. ,Hanya karena pakaian saja kalian sampai seperti itu? Dasar kurang kerjaan, pikirku. Aku berdiri di tengah kerumunan dan mengatakan kalau dia adalah temanku dan mengehentikan orang-orang yang mengolok tadi dengan kalimat, “ Urus saja urusan mu sendiri.”,  “Apakah kau tidak punya sesuatu yang bisa kau kerjakan?” mereka perlahan berhenti dan suasana menjadi tenang seperti yang seharusnya.

            Pria itu melihat ke arahku dan tersenyum ramah, “ Terimakasih, ya.” Aku mengangguk dan menarik kursi di sampingnya sambil mengisyaratkan, bolehkah aku duduk disini? Dan ia mengangguk, tentu. Aku bertanya padanya, “ Boleh aku tau kenapa kau sampai di perlakukan seperti itu?” pria itu menaruh cangkir kopi yang ingin diminumnya perlahan, “ Aku adalah seorang muslim.” Muslim. Aku pernah membaca kalau itu adalah panggilan kepada penganut agama Islam. “ Agama kami difitnah dan dihujat sebagai agama teroris, padahal itu hanya alasan untuk negara-negara yang mempunyai kepentingan sendiri  agar mereka bisa melakukan genosida dan menghancurkan negara-negara Muslim atas nama perdamaian.” Pria itu menunduk melihat kopinya yang masih setengah. Oh, ternyata bukan masalah pakaian. Aku tahu cerita itu, bagaimanapun aku mendengar atau membaca cerita itu aku merasa ada sesuatu yang ganjil bagiku. “ Kenapa kau tadi diam saja? Kenapa tidak membalas?” dia hanya tersenyum, lagi. “ Aku hanya ingin mencontoh teladanku, beliau mempunyai kesabaran yang luar biasa, aku berharap aku bisa menjadi sepertinya.” Itu tidak masuk akal, pikirku. Aku menatap kopi tadi, pandanganku kembali kosong, “ Begitu rupanya.”

            Pria itu melihatku sambil mengernyitkan dahinya, lalu ia tersenyum. “ Sebagai ucapan terimakasihku, kau bisa menemuiku di café ini bila kau ada suatu masalah ,mungkin?” aku melihatnya. Bercerita pada sesorang yang baru aku temui? Itu terdengar aneh, dan yang lebih penting kenapa dia bisa tahu soal itu? “ Ah, itu terdengar bagus.” Ya ampun kenapa aku setuju? Pria itu tersenyum lagi, “ namamu?” aku menjawab,  “ Jonathan.” “ Kau?” ia menjawab “Ahmad.”

            Beberapa hari berlalu. Pikiranku semakin menumpuk dengan pekerjaanku. Dadaku makin terasa sesak dan kosong. Ini tidak menyenangkan. Kekosongan dan kesesakan ini sangat menganggu seluruh aktivitasku. Aku terasa lemah, namun ini bukan sakit. Apa yang harus kulakukan? Aku seperti jatuh kedalam jurang dan tidak ada suatu pegangan atau seseorang yang menolongku disana. Aku juga tidak bisa tidur selama 3 hari ini. Rasanya aku ingin menhilang saja. Tiba-tiba aku teringat Ahmad, saat itu dia menawariku sesuatu, Aku masih ragu untuk menerima sarannya sepenuhnya. Tapi, aura Ahmad sangat berbeda, aku seperti pernah bertemu dengannya jauh sebelum pertemuan itu. Itulah alasan aku mempertimbangkan saran Ahmad. Apa salahnya juga mencoba? Aku bersiap dan pergi ke café itu.

            Sesampainya di café aku tidak melihat Ahmad ada disana. Aku bertanya pada salah satu pelayan dan ia bilang kalau Ahmad pergi ke suatu bagunan di seberang jalan. Aku segera berlari kesana. Masjid Al-Kahfi , apa pula yang dilakukannya disini? Aku bertemu Ahmad di dalam bangunan itu, Ahmad terkejut dan tersenyum. Ia mengajariku tata cara masuk masjid, aku melepas sepatu dan melakukan kegiatan-membasuh-seluruh-badan atau kata Ahmad ‘wudhu’.

            Kami duduk di tempat yang dinamai serambi masjid. Hawa dingin dan sejuk disini sedikit mengenakan perasaanku. Aku baru tahu ada tempat seperti ini. Aku mulai menceritakan semua keluh kesahku pada Ahmad, aku yang merasa kosong dan sesak, aku yang jatuh kedalam, semua permasalahanku selama ini kucurahkan dengan jujur. Anehnya aku tidak merasa takut walau Ahmad adalah orang yang baru aku temui, hatiku mendorongku untuk percaya padanya. Ahmad juga mendegarkanku dengan serius, sesekali menganggukan kepalanya tanda ia mengerti apa yang aku rasakan. Setelah selesai mendengar ceritaku, Ahmad menuju ke tumpukan buku dan mengambil sesuatu, aku melihat bagian depannya dan tidak mengenali tulisannya. Ahmad tersenyum dan mulai membacakannya untukku.

            Mataku terbuka. Indah..indah sekali. Lantunan kalimat yang dibacakan Ahmad menggetarkan hatiku. Walaupun aku tidak tahu artinya namun kalimat-kalimat ini seperti merangkulku. Aku merasa aman dan nyaman. Hatiku juga dibanjiri kehangatan. Apa ini? Kenapa bisa seperti ini? Ahmad mulai membacakan arti dari kalimat tadi. Air mataku menetes. Indah dan mulia sekali. Aku merasa aku telah dilindungi. Aku merasa aku telah menemukan pegangan agar aku tidak jatuh ke dalam jurang gelap itu, Aku bisa merangkak naik, aku merasa terselamatkan. Air mataku menetes untuk yang kedua kalinya.

            Ahmad juga menceritakan soal teladannya yang pernah ia ceritakan dulu. Ia adalah Muhammad, utusan Tuhan pada masanya. Hatiku trenyuh mendengar kisahnya. Air mataku menetes lagi. Kesabaran nya tidak sampai pada akal manusia sepertiku. Hatiku mengiinginkan aku untuk berada di sampingnya, menjadi salah satu temannya. Betapa mulianya dia, betapa baiknya dia, betapa sempurnanya dia! Batinku bergejolak.

            Hatiku yang semula kosong dan gelap kini dipenuhi kehagantan. Mataku yang kosong kini terbuka lebar. Tangan ku yang dingin kini bergetar saking kagumnya. Aku telah menemukan cahayaku. Aku bisa mengisi kekosongan ini, aku yakin itu, “ Aku..” “Asyhadu an La Ilaha Illa Allah, wa Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.”

Tamat

Catatan Penulis
Nama:Hanan Nisrina Nardin
Kelas: 9C, no. presensi 11